Klik foto untuk melihat lebih detail
Zuiyen Rais
1940 - 2022
Biografi Lengkap
Zuiyen Rais merupakan salah satu tokoh birokrasi dan pembangunan yang memiliki peran penting dalam perjalanan pemerintahan Kota Padang pada akhir abad ke-20. Ia lahir di Nagari Kapau pada 13 Desember 1940 dari pasangan Rais Pakiah Ibrahim dan Hj. Kasima. Sejak kecil, Zuiyen dikenal sebagai pribadi yang tekun dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat (SR) Kapau dan diselesaikannya pada tahun 1953. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 5 Bukittinggi hingga tamat pada tahun 1956, kemudian meneruskan pendidikan di SMA Negeri 2 Birugo Bukittinggi dan lulus pada tahun 1959.
Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Sejarah IKIP Padang. Di perguruan tinggi tersebut, ia berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1963 dan menyelesaikan gelar Sarjana Lengkap pada tahun 1966. Masa-masa kuliah menjadi fondasi penting yang membentuk cara pandangnya terhadap pembangunan daerah dan kehidupan masyarakat.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Zuiyen memulai karier sebagai asisten dosen sekaligus wartawan di Harian Aman Makmur. Pengalaman di dunia akademik dan jurnalistik memperluas wawasan serta kemampuannya dalam memahami berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Dedikasinya dalam dunia pers mengantarkannya dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Padang sebagai ketua pada periode 1968–1970.
Kariernya di pemerintahan dimulai pada tahun 1970 ketika ia terpilih sebagai anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) Bidang Sosial Budaya Kotamadya Padang. Jabatan tersebut menjadi langkah awal pengabdiannya dalam birokrasi pemerintahan daerah. Kemampuan manajerial dan pemahamannya terhadap pembangunan membuat kariernya terus berkembang. Ia kemudian dipercaya menjabat Kepala Terpeda Kotamadya Padang pada periode 1974–1980, sebelum diangkat menjadi Asisten I Bidang Pemerintahan pada tahun 1980–1981.
Kemampuannya dalam merencanakan pembangunan daerah semakin diakui ketika ia ditunjuk sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tingkat II Kotamadya Padang pada tahun 1981. Jabatan tersebut diembannya hingga tahun 1987. Pada waktu yang sama, Zuiyen juga aktif di dunia pendidikan tinggi dengan menjabat sebagai Pembantu Rektor II Universitas Bung Hatta pada periode 1981–1986. Keterlibatannya di universitas tersebut tidak terlepas dari perannya sebagai salah satu tokoh yang ikut merintis berdirinya perguruan tinggi tersebut bersama Hasan Basri Durin dan sejumlah tokoh lainnya.
Di tengah kesibukannya sebagai birokrat dan akademisi, Zuiyen tetap berupaya meningkatkan kapasitas keilmuannya. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan berhasil memperoleh gelar Magister Penyuluhan Pembangunan pada tahun 1986. Pendidikan tersebut semakin memperkaya perspektifnya dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Setelah menyelesaikan pendidikan magisternya, karier birokrasi Zuiyen Rais semakin menanjak. Ia dipercaya menjabat sebagai Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Wilayah Daerah Padang pada periode 1987–1990. Selanjutnya, ia diangkat sebagai Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Provinsi Sumatera Barat pada tahun 1990–1992. Pada masa yang sama, ia juga mengemban amanah sebagai Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Bung Hatta hingga tahun 1993.
Pengalaman panjang di bidang pemerintahan dan perencanaan pembangunan mengantarkannya menduduki jabatan Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Kotamadya Padang pada tahun 1992. Hanya setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1993, DPRD Kota Padang memilihnya sebagai Wali Kota Padang untuk menggantikan Syahrul Ujud. Terpilihnya Zuiyen Rais menandai lahirnya kepemimpinan baru yang berorientasi pada penataan kota dan pengembangan infrastruktur jangka panjang.
Selama memimpin Kota Padang, Zuiyen Rais dikenal sebagai sosok yang berani mengambil keputusan strategis demi kepentingan pembangunan kota. Salah satu kebijakan penting yang menjadi perhatian publik saat itu adalah penutupan Terminal Lintas Andalas (TLA). Terminal yang berada di pusat kota tersebut dinilai tidak lagi mampu menampung aktivitas transportasi yang terus meningkat akibat keterbatasan lahan dan tingginya kepadatan kendaraan.
Sebagai langkah antisipatif, Pemerintah Kota Padang merancang pembangunan Terminal Regional Bengkuang (TRB) di kawasan Aie Pacah sebagai terminal pengganti. Gagasan tersebut sempat menimbulkan perdebatan dan mendapat penolakan dari sejumlah pihak, termasuk instansi perhubungan. Namun, Zuiyen Rais tetap melanjutkan rencana tersebut karena meyakini bahwa pengembangan kawasan Aie Pacah merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk pemerataan pembangunan dan penataan sistem transportasi Kota Padang. Kebijakan itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam arah pengembangan wilayah Kota Padang pada masa-masa berikutnya.