LAVAS Logo
LAVAS Layanan Audio Visual Arsip Statis
Sekitar Arsip Daftar Arsip Galeri Tokoh Berita
Drs. H. Azhari

Klik foto untuk melihat lebih detail

Walikota Padang,

Drs. H. Azhari

? - sekarang

adalah seorang birokrat, pendidik, dan tokoh pembangunan Sumatera Barat yang memiliki peran penting dalam bidang pemerintahan dan pendidikan. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kotamadya Padang, Pejabat Wali Kota Padang pada tahun 1966, serta menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Selain karier birokrasinya, Azhari dikenal sebagai perintis berbagai lembaga pendidikan, di antaranya SMP Darurat Tanjung Alam, Sekolah Asisten Apoteker (kini SMK Farmasi Bukittinggi), serta turut berperan dalam pendirian IAIN Imam Bonjol Padang dan Fakultas Teknik yang kemudian menjadi bagian dari Universitas Bung Hatta. Dedikasinya menjadikan Azhari sebagai salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan dan pembangunan daerah di Sumatera Barat

Biografi Lengkap

Drs. H. Azhari merupakan salah satu tokoh birokrasi dan pendidikan yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Sumatera Barat. Berbagai gagasan dan karya yang dirintisnya masih dapat dirasakan manfaatnya hingga saat ini, terutama dalam bidang pemerintahan dan pendidikan.

Azhari lahir pada 22 Juli 1923 di Bonjo Alam. Pendidikan dasarnya dimulai di Sekolah Desa atau “Sikola Basi” Bonjo Alam pada tahun 1930. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Schakelschool Tanjung Alam pada tahun 1933. Usai menamatkan pendidikan tersebut, Azhari mulai bekerja sebagai juru tulis, juru gambar, dan juru ukur pada lembaga “Kunu V & W” yang kemudian menjadi cikal bakal instansi Pekerjaan Umum.

Meskipun telah bekerja, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pernah surut. Pada tahun 1947 ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Pamong Praja (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) dan menyelesaikannya pada tahun 1948. Kemudian pada tahun 1954, ia memperoleh kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial, dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, hingga meraih gelar sarjana pada tahun 1958.

Karier birokrasi Azhari berkembang pesat seiring perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948, ia turut mengabdikan diri dalam pemerintahan. Dua tahun kemudian, ia diangkat sebagai Kepala Seksi Politik pada Kantor Bupati Solok sekaligus merangkap jabatan sebagai Camat Kubung.

Pada era Demokrasi Terpimpin, Azhari dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kotamadya Padang hingga tahun 1966. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai Pejabat Wali Kota Padang. Setahun kemudian, atas permintaan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain, ia menduduki jabatan Asisten V Bidang Pengawasan dan Efisiensi hingga tahun 1969. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Administrator Sosial Politik sampai tahun 1970 dan mengakhiri karier birokrasinya sebagai Kepala Pembangunan Desa.

Selain berkiprah di pemerintahan, Azhari juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Pada tahun 1948, ia mendapat mandat untuk mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darurat Tanjung Alam yang kini berkembang menjadi SMP Negeri 1 Ampek Angkek. Ketika menjabat sebagai Camat Kubung, ia dipercaya menjadi Sekretaris Presidium Sekolah Guru Atas (SGA) Solok serta menggagas pendirian Kursus B-I Sejarah di Solok. Pada dekade 1980-an, saat menjabat Kepala Pembangunan Desa, ia turut berperan dalam pendirian SD Negeri 13 Parik Putuih yang dibangun di atas tanah wakaf Muhammadiyah Ranting Parik Putuih.

Peran Azhari dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Sumatera Barat juga sangat penting. Bersama sejumlah tokoh masyarakat, ia mendirikan Yayasan Imam Bonjol pada tahun 1962 yang tercatat dalam Akta Notaris Nomor 34 tanggal 19 Februari 1962. Melalui yayasan tersebut, Azhari ikut merintis berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang.

Bersama Mansur Datuk Nagari Basa dan Gubernur Sumatera Barat Ruslan Muljohardjo, Azhari berupaya memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan Departemen Agama Republik Indonesia untuk pendirian perguruan tinggi Islam negeri pertama di Sumatera Barat. Mereka mengusahakan pembentukan empat fakultas beserta sarana pendukungnya, sekaligus melakukan pendekatan kepada Menteri Agama Saifuddin Zuhri guna memperoleh persetujuan pendirian IAIN Imam Bonjol.

Dedikasinya terhadap pendidikan juga diwujudkan melalui pendirian sejumlah lembaga pendidikan kejuruan. Pada 1 Agustus 1963, Azhari mendirikan Sekolah Asisten Apoteker (SAA) yang kini dikenal sebagai SMK Farmasi Bukittinggi. Setahun kemudian, ia mendirikan Jurusan Teknik Seni dan Arsitektur serta Sekolah Analis Kimia Menengah (SAKMA) Padang yang kemudian diserahkan kepada Departemen Perindustrian Republik Indonesia. Pada Oktober 1964, ia kembali menggagas pendirian Fakultas Teknik yang membawahi Jurusan Teknik Sipil dan Arsitektur, yang selanjutnya berkembang dan menjadi bagian dari Universitas Bung Hatta.

Melalui kiprahnya sebagai birokrat, pendidik, dan perintis berbagai lembaga pendidikan, Drs. H. Azhari telah meninggalkan warisan yang berharga bagi kemajuan Sumatera Barat. Kontribusinya tidak hanya terlihat dalam pembangunan pemerintahan daerah, tetapi juga dalam lahirnya berbagai institusi pendidikan yang terus mencetak generasi penerus bangsa hingga saat ini.