LAVAS Logo
LAVAS Layanan Audio Visual Arsip Statis
Sekitar Arsip Daftar Arsip Galeri Tokoh Berita
Tugu Sungai Barameh
Koleksi Foto / Tugu

Tugu Sungai Barameh

04 Sep 2026
Galeri / Koleksi Foto / Tugu / Tugu Sungai Barameh
Tugu Sungai Barameh

MONUMEN TUGU PERISTIWA SUNGAI BARAMEH
Peringatan Peristiwa Bumi Hangus Kampung Gaung
Lokasi: Jalan Raya Padang–Painan, Pasar Gaung

Tugu ini dibangun pada tahun 1986 untuk memperingati peristiwa bumi hangus Kampung Gaung Sungai Barameh yang dilakukan oleh tentara Sekutu pada dini hari 8 Desember 1945. Sebagai salah satu negara pemenang Perang Dunia Kedua dan pihak yang mengalahkan Jepang, hampir seluruh tentara Sekutu menganggap wilayah yang mereka duduki sebagai daerah kekuasaan mutlak—tanpa menyadari adanya tata krama dan adat istiadat yang masih melekat kuat di tengah masyarakat, ditambah gejolak keinginan merdeka dari penjajahan bangsa asing.

Latar Belakang: Kunjungan yang Berujung Maut
Minggu pagi, 5 Desember 1945 pukul 08.00 WIB, Mayor Anderson (tentara Inggris, sekitar 27 tahun) bersama Allingham (perempuan dari Palang Merah Internasional, sekitar 24 tahun) mendatangi Kantor Polisi RI dan menemui polisi Jhonny Anwar. Mereka menyampaikan niat pergi ke pemandian Sungai Barameh, sekitar 11 km dari Kota Padang ke arah Pesisir Selatan. Jhonny Anwar tidak kuasa melarang, namun mengingatkan agar berhati-hati karena lokasi pemandian berada di tebing curam dan bersemak belukar.

Kedua sejoli itu melaju keluar kota tanpa menghiraukan situasi Padang yang kala itu masih mencekam. Kehadiran mereka di sepanjang perjalanan mengundang perhatian penduduk, yang merasa harga dirinya diinjak-injak. Di dekat Sungai Barameh, di Bukit Sikabau, terdapat rumah santai yang biasa dipakai menikmati pemandangan Taluak Bayua. Di seberang jalan, di semak belukar kaki bukit, empat pemuda—salah satunya Kamaruddin, seorang pemuda Bugis—mengintip momen mesra keduanya. Amarah menguasai mereka, dan tanpa aba-aba, keduanya dibunuh di tempat.

Pembalasan Sekutu
Peristiwa ini segera tersebar dan diketahui tentara Sekutu, yang langsung mengepung Kampung Gauang dari segala arah. Penduduk dipaksa meninggalkan rumah tanpa membawa barang apa pun dan dikumpulkan di sebuah lapangan. Rumah-rumah yang kosong kemudian disiram bensin dan dibakar habis. Aksi serupa berlanjut ke Bukit Putuih, Teluk Nibuang, dan Sungai Barameh, menyebabkan ratusan penduduk kehilangan tempat tinggal. Kepala Kampung Gauang dan Kepala Polisi Taluak Bayua turut ditangkap sebagai sandera, sementara Pemerintah RI dituntut menangkap pelaku pembunuhan secepatnya.

Penanganan dan Pengadilan
Empat hari setelah kejadian, kedua jenazah ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Tentara Gantiang dalam kondisi rusak parah akibat tusukan benda tajam. Sekutu memaksa Rusad Datuk Perpatiah Baringek (Residen Sumatera Barat) dan Mr. SM. Rasjid (Wakil Ketua KNI Sumatera Barat) menyaksikan kondisi jenazah, sekaligus menggeledah berbagai tempat, termasuk rumah Mr. SM. Rasjid sendiri, dengan dalih mencari senjata. Walikota Padang Mr. Abu Bakar Djaar berulang kali dipanggil ke markas Sekutu, sementara Sulaiman Efendi (Kepala Polisi Kota Padang) turut diminta pertanggungjawaban. Nursidin, Kepala Polisi Bagian Kriminal, yang ayahnya disandera Sekutu, ditugaskan menangkap pelaku, dan berhasil menangkap Kamaruddin bersama seorang rekannya di Painan; dua lainnya melarikan diri. Keduanya diserahkan sementara kepada Sekutu untuk diperiksa, namun tetap diadili oleh Pengadilan RI sesuai kesepakatan. Belakangan, keduanya dibawa ke Bukittinggi dan akhirnya dibebaskan.

Makna dan Desain
Peristiwa pembunuhan Mayor Anderson dan Nona Allingham ini kemudian menjadi alasan bagi Sekutu untuk melancarkan serangan besar-besaran dengan pengerahan penuh armada tempur terhadap kubu-kubu pertahanan pemuda pejuang kemerdekaan. Tugu Peristiwa Sungai Barameh dirancang oleh Drs. Amril M.Y. Dt. Garang, dan pembangunannya dikerjakan oleh beberapa guru SMSR Padang (kini SMKN 4 Padang).