LAVAS Logo
LAVAS Layanan Audio Visual Arsip Statis
Sekitar Arsip Daftar Arsip Galeri Tokoh Berita
MONUMEN TUGU BAGINDO AZIZ CHAN
Koleksi Foto / Tugu

MONUMEN TUGU BAGINDO AZIZ CHAN

07 Sep 2026
Galeri / Koleksi Foto / Tugu / MONUMEN TUGU BAGINDO AZIZ CHAN
MONUMEN TUGU BAGINDO AZIZ CHAN

MONUMEN TUGU BAGINDO AZIZ CHAN




Peringatan Gugurnya Walikota Padang Kedua
Lokasi: Diberbagai Tempat — Simpang Tinju/Simpang Kandih (persimpangan Jalan Jhoni Anwar dan Jalan Gajah Mada, Lapai); depan area perkantoran bekas Balaikota, kemudian di depan Youth Center atau halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang, Jl. Bagindo Aziz Chan, Kota Padang; serta Patung Bagindo Aziz Chan di dalam Komplek Museum Adhityawarman

Tugu di Simpang Kandih, yang kini dikenal sebagai Simpang Tinju, dibangun pada tahun 1988 sebagai peringatan gugurnya Bagindo Aziz Chan, Walikota Padang kedua, yang wafat pada 19 Juli 1947 saat melawan pasukan Belanda. Monumen berupa kepalan tangan ini didirikan tepat di tempat sang pahlawan gugur, menandai awal Agresi Militer Belanda Pertama pada 21 Juli 1947.

Masa Muda dan Pendidikan
Aziz Chan lahir pada 30 September 1910 di Kampung Alang Laweh, Kota Padang, dari keluarga dengan akar kuat di Pariaman. Ayahnya bekerja sebagai pegawai kereta api, dan keluarganya mendukung pendidikan anak-anaknya di sekolah Belanda, yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan jati diri Aziz Chan.

Pendidikan Aziz Chan berjalan di HIS Padang dan MULO, kemudian dilanjutkan di AMS Jakarta, pusat pergerakan politik dan intelektual nasional pada masa itu. Di Jakarta, ia mulai aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan terinspirasi oleh pemikiran H. Agoes Salim, yang berhasil menggabungkan intelektualisme dan nilai-nilai Islam ke dalam perjuangan melawan penjajahan. Pertemuan-pertemuan politik yang semula terbuka kemudian menjadi rahasia karena kecurigaan Belanda terhadap gerakan nasionalisme dan organisasi Islam. Dalam aktivitas politik tersebut, Aziz Chan dikenal sebagai pembicara yang bersemangat, meskipun kadang kurang sabar.

Kehidupan Pribadi dan Aktivitas Politik Awal
Selama masa studinya di AMS, ia bertemu dan menikah dengan Raden Ayu Entis Atisah serta mengalami duka atas meninggalnya kedua orang tuanya. Meski bantuan keluarga terbatas setelah kematian orang tuanya, Aziz Chan meneruskan pendidikan di RHS, jurusan hukum, selama dua tahun hingga status kandidat II. Ia kemudian aktif mendirikan kantor pengacara dan terlibat dalam berbagai organisasi politik, termasuk menjadi pengurus Jong Islamieten Bond yang diasuh oleh H. Agoes Salim.

Aziz Chan pun kembali ke Sumatera Barat untuk menggiatkan pembaruan Islam, sejalan dengan jejak tokoh-tokoh sebelumnya seperti Syekh Abdullah Ahmad dan Syekh Abdul Karim Amrullah. Ia juga mendirikan Persatuan Pelajar Islam se-Kota Padang dan mengembangkan organisasi pemuda serta pendidikan yang berorientasi pada pembaruan dan nasionalisme. Selain itu, Aziz Chan terkenal sebagai penggila sepak bola yang menginisiasi pembentukan Perkumpulan Pemuda Pedjaka dan Volks Universiteit.

Masa Pendudukan Jepang dan Awal Kemerdekaan
Pada masa pendudukan Jepang, Aziz Chan tergabung dalam Badan Kebaktian Rakyat yang mengurus logistik. Usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, situasi di Padang tetap penuh ketegangan. Kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda yang terselubung membangkitkan kecurigaan pemuda terhadap upaya Belanda menguasai kembali wilayah. Meski begitu, para pemuda harus menahan diri atas instruksi pemerintah RI, seperti pada insiden pengibaran bendera Inggris di Teluk Bayur pada Oktober 1945 yang hampir menimbulkan konflik.

Untuk memperkuat solidaritas dan informasi pemuda, pada 19 Agustus 1945 dibentuk BPPI (Balai Penerangan Pemuda Indonesia) yang dipimpin Ismael Lengah, di mana Aziz Chan berperan sebagai penghubung. BPPI kemudian dibubarkan pada Oktober 1945, dan Aziz Chan memilih bergabung dengan PRI (Pemuda Rakyat Indonesia) untuk tetap memantau situasi politik. Pada November 1945, ia terpilih sebagai delegasi dalam Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta, menegaskan peran vitalnya dalam perjuangan kemerdekaan dan organisasi pemuda yang menjadi motor perjuangan nasional.

Wakil Walikota Padang
Pada 23 Januari 1946, Bagindo Aziz Chan ditunjuk sebagai Wakil Walikota Padang mendampingi Abu Bakar Djaar, menghadapi situasi perang gerilya dengan Sekutu yang mengincar wilayah tersebut. Sekutu mengerahkan serangan besar seperti pada 18 Juni 1946 dengan senjata berat untuk merebut Batu Busuk, namun perlawanan sengit dari pasukan lokal yang dipimpin Kapten Rasjid dan dukungan kompi lain berhasil menahan serangan tersebut. Konflik semakin intens di daerah Padang Besi Indarung dan sekitarnya.

Pada Juni 1946, Presiden Soekarno mengumumkan keadaan bahaya nasional dan membentuk Dewan Pertahanan Negara (DPN) yang dipimpinnya sendiri serta Dewan Pertahanan Daerah (DPD) di daerah-daerah, termasuk Sumatera Barat yang dipimpin oleh Residen Dr. M. Jamil dan Kolonel Dahlan Djambek sebagai wakilnya. Masyarakat Padang, terutama para pemuda, berani melawan dengan aksi penyerangan seperti granat dan tembakan terhadap konvoi serta pos penjagaan Sekutu pada akhir Juli 1946.

Pengangkatan sebagai Walikota Padang
Ketika Abu Bakar Djaar dipindahkan menjadi Residen di Sumatera Timur, terjadi kekosongan posisi walikota yang mengancam kestabilan pemerintahan di Padang. DPD dan Dewan Pemerintah Daerah Sumatera Barat mengadakan rapat dan akhirnya menetapkan Bagindo Aziz Chan sebagai pengganti walikota. Penunjukan ini sangat strategis karena diperlukan sosok yang berani, cerdas, dan tahan menghadapi risiko tinggi dari Sekutu dan Belanda yang berupaya masuk kembali.

Pengangkatannya resmi dilakukan pada 15 Agustus 1946, bertepatan dengan bulan puasa dan turunnya Al-Quran, menandai awal peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan di Padang saat Sekutu semakin gencar menindas para pemimpin lokal.

Masa Kewalikotaan di Tengah Krisis
Pada masa kewalikotaan Bagindo Aziz Chan, Kota Padang mengalami masa yang sangat sulit dan penuh konflik karena kehadiran pasukan Sekutu yang menguasai kota. Kota Padang menjadi sepi, nyaris mati, karena banyak penduduk mengungsi ke daerah-daerah sekitar seperti Bukittinggi, Padang Panjang, Solok, dan Batusangkar.

Meski dalam kesulitan, Bagindo Aziz Chan tampil sebagai sosok yang berani dan penuh semangat perjuangan. Ia tidak takut menghadapi pihak Sekutu, bahkan melakukan kunjungan resmi ke markas besar mereka bersama pejabat lainnya untuk berunding soal keamanan dan lalu lintas kota. Namun, saat ia ingin mengadakan peringatan satu tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang dilarang oleh pihak Sekutu, ia tetap mengadakan upacara tersebut secara tertutup di kantor walikota dan mendirikan tugu kecil sebagai simbol peringatan kemerdekaan.

Perlawanan lewat Media dan Pembangunan Kota
Dalam menghadapi propaganda Sekutu lewat media seperti koran "Padang Bode" dan "Harian Penerangan", ia memilih menerbitkan surat kabar sendiri bernama "Tjahaja Padang" untuk memberikan informasi terkait perkembangan perjuangan Republik Indonesia kepada masyarakat. Selain itu, ia juga membuka kembali aktivitas pendidikan dengan membangun SMP meski hanya dengan sedikit murid dan guru. Berbagai sektor seperti lalu lintas kereta api dan pabrik tenun juga berusaha dioperasikan kembali. Namun, tindakan semena-mena Sekutu seperti pencaplokan kantor dan toko milik Republik menyebabkan ketegangan di kota tetap tinggi.

Serangan Gerilya dan Pembentukan BKR
Kelompok pejuang yang terus berada di sekitar dan di luar kota tetap aktif melakukan serangan gerilya terhadap pasukan Sekutu, terutama NICA. Pada 28 Agustus 1946, serangan mendadak besar-besaran dilakukan di beberapa pos pertahanan Sekutu di Tabing, Simpang Haru, dan Teluk Bayur, yang dibalas dengan pembakaran rumah warga oleh pasukan Sekutu. Sekutu kemudian menangkap pria-pria lokal dalam jumlah besar, membuat Bagindo Aziz Chan dan Kepala Polisi Jhony Anwar marah dan berusaha keras membebaskan mereka setelah negosiasi.

Ketegangan semakin meningkat setelah tentara Inggris dan India ditarik pada November 1946, sedangkan tentara Belanda dan NICA masih bertahan dan memperluas penguasaannya di luar kota. Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) secara spontan pada 10 November 1946 menjadi titik penting dalam perjuangan di Padang. BKR yang dipimpin pemuda-pemuda setempat bertindak siang sebagai polisi dan malam menjadi pejuang gerilya di dalam kota, diakui sebagai cabang Divisi Banteng. Selain itu, terdapat pasukan gerilya seperti Pasukan Himuin atau Tentara Semut yang berada di bawah perhatian dan pembiayaan Bagindo Aziz Chan, aktif melawan penjajah secara tersembunyi.

Protes terhadap Tindakan Sewenang-wenang Belanda
Tindakan sewenang-wenang NICA dan Belanda di berbagai area perkampungan serta perebutan rumah-rumah penduduk membuat Bagindo Aziz Chan kembali melayangkan protes resmi yang berisi kecaman keras atas tindakan tak berperikemanusiaan dan permintaan agar rumah-rumah yang direbut dikembalikan. Tak ada respons dari pihak Belanda, sehingga menyebabkan pertempuran sengit berkobar, diikuti serangan udara dan pertempuran di daerah-daerah sekitar seperti Andaleh dan Simpang Haru.

Pada 23 Oktober 1946, Bagindo Aziz Chan kembali mengirim surat tegas kepada Brigadir Thomson, meminta pembebasan tahanan politik dan mendesak penghentian penangkapan yang dianggap akan mengganggu keamanan kota yang sudah rapuh.

Serah Terima Kekuasaan ke Belanda
Serah terima kekuasaan dari Sekutu ke Belanda pada 28 November 1946 memicu situasi kota menjadi lebih berbahaya. Bentrokan semakin intensif dengan pembentukan berbagai pasukan seperti Barisan Polisi Istimewa, Lasykar Hizbullah, dan Sabilillah. Kota Padang kembali menjadi pusat perlawanan, dengan banyaknya pertempuran sengit antara pejuang dan Belanda, termasuk ledakan ranjau serta pengintaian udara oleh pesawat Belanda.

Harapan sempat muncul melalui Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada 25 Maret 1947, dengan pertemuan perundingan dilaksanakan di Kota Padang. Pada awal April 1947, ibukota Sumatera Barat dipindahkan kembali ke Kota Padang, disertai aktifnya kembali penggunaan mata uang Republik Indonesia dan pembangunan infrastruktur seperti transportasi kereta api.

Pelanggaran Perjanjian oleh Belanda
Namun, janji Belanda yang manis di atas kertas ternyata hanya tipu daya karena pelanggaran terhadap isi perjanjian terus berlangsung. Belanda masih melakukan penangkapan, penggerebekan, dan pengusiran terhadap polisi dan penduduk setempat. Larangan mengibarkan bendera merah putih di kampung dan desakan agar polisi Republik Indonesia tidak bersenjata semakin menandakan ketidakseriusan Belanda dalam menghormati kedaulatan RI.

Ketegangan meningkat hingga akhirnya terjadi penarikan pasukan Barisan Polisi Istimewa ke Bukittinggi dan pemindahan ibukota ke sana kembali. Informasi rahasia mengenai rencana penangkapan tokoh-tokoh Republik di Padang membuat Bagindo Aziz Chan dan para pemimpin lainnya memilih bertahan di kota demi menjaga perjuangan.

Peristiwa Terakhir sebelum Kematian
Kejadian bermula pada 16 Juli 1947, ketika Aziz Chan melaporkan situasi Kota Padang kepada Dewan Eksekutif Sumatera Barat. Ia lalu menuju Padang dan mengunjungi istri pertamanya di Padang Panjang. Dalam perjalanan, ia diberitahu oleh pejuang Mak Uniang Rasjidin bahwa jaringan polisi rahasia Belanda, Nefis, akan menangkap tokoh republik di kota.

Aziz Chan mengirim surat agar istri mudanya yang sedang hamil, Sitti Zaura Usman, segera mengungsi, namun mobilnya ditahan oleh penjaga pos Belanda dekat Jembatan Purus, sehingga ia terpaksa menunggu di Arang Parahu. Keesokan harinya, 17 Juli 1947, ia masuk kota untuk melakukan peringatan kemerdekaan RI bersama warga di Merdeka Theatre. Dua hari kemudian, pada 19 Juli 1947, ia berangkat meninggalkan Kota Padang untuk urusan negara bersama istri dan beberapa rekannya. Mobil melewati pos Belanda di Jembatan Purus tanpa hambatan, tetapi ditahan lagi di Jembatan Ulak Karang. Komandan tentara Belanda, Van Erp, meminta Aziz Chan meredakan kerusuhan yang terjadi di Lapai, dan ia setuju naik jeep militer Van Erp, meninggalkan rombongan tanpa pendamping.

Kematian dan Dugaan Pembunuhan
Setelah Aziz Chan tidak kunjung kembali, pengawal Belanda mengabarkan kematiannya akibat sebuah insiden, dan jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Militer di Gantiang. Saat jenazah diterima, tampak darah dan luka parah di kepala bagian belakang dekat telinga kanan. Kejadian ini mengejutkan warga dan menimbulkan kemarahan. Tubuh Aziz Chan yang dibawa ke rumahnya di Belakang Olo ternyata memperlihatkan tiga bekas tembakan di kepala, menunjukkan adanya kebohongan atas penyebab kematian aslinya.

Di Bukittinggi, kematian Aziz Chan diduga bukan karena kecelakaan melainkan tindakan sengaja. Belanda yang kerap melanggar kesepakatan dicurigai menjadi pelaku. Tim dokter yang memeriksa jenazahnya menemukan bahwa penyebab kematian adalah pukulan benda keras di bagian belakang kepala dekat telinga kanan, lalu ditembak untuk menghilangkan jejak.

Kolonel Ismael Lengah, saat penguburan, menyatakan bahwa Aziz Chan telah membuktikan keteguhannya menolak didudukinya Padang oleh Belanda. Jhonny Anwar menyebut Aziz Chan sebagai pejuang besar yang tidak mengenal takut dan mundur, sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan di Kota Padang. Kematiannya menandai awal aksi licik Belanda melakukan penangkapan besar-besaran aparat republik, diikuti Agresi Militer Belanda Pertama di front pejuang.

Pemakaman
Penjemputan jenazah Bagindo Aziz Chan oleh rombongan resmi Republik Indonesia bukanlah perjalanan yang mudah. Pasukan Belanda sangat ketat mengawasi Kota Padang dengan kecurigaan tinggi, bahkan menempatkan senjata mengarah ke rombongan. Pemerintah kemudian memutuskan memakamkan Bagindo Aziz Chan di Taman Bahagia Bukittinggi sebagai bentuk penghormatan kepahlawanannya, meski keluarga lebih memilih pemakaman di Kota Padang. Situasi kota tetap genting bahkan pada saat berduka, dengan Belanda masih melakukan penangkapan massa laki-laki dan pengawasan ketat di sekitar rumah duka.

Desain dan Makna Monumen
Sebagai penghormatan, tiga monumen Bagindo Aziz Chan didirikan di Padang. Tugu pertama berupa kepalan tangan di Simpang Tinju/Simpang Kandih (persimpangan Jalan Jhoni Anwar dan Jalan Gajah Mada, Lapai), didirikan tepat di tempat sang pahlawan gugur. Tugu kedua berada di depan area perkantoran bekas Balaikota, yang kemudian berpindah lokasi ke depan Youth Center atau halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang di Jl. Bagindo Aziz Chan, Kota Padang, untuk mengenang jalur perjuangan dan gugurnya Walikota Padang tersebut. Sementara itu, monumen ketiga berupa patung diri Bagindo Aziz Chan berada di dalam Komplek Museum Adhityawarman.


Sumber: Buku Nilai Sejarah Tugu Monumen Perjuangan Di Kota Padang, Oleh Marsaleh Adaz, S.Sos; harianhaluan.com