MONUMEN TUGU PERJUANGAN KEMERDEKAAN RAKYAT PAUH
Peringatan Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Pauh
Lokasi: Halaman Kantor KAN Pauh, Pasar Baru
Tugu Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Pauh dibangun sebagai penghormatan terhadap perjuangan masyarakat Pauh yang gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara Sekutu dan Belanda. Masyarakat Pauh hanya mengandalkan senjata rampasan dari Jepang dan gudang senjata Sekutu, serta senjata tradisional seperti bambu runcing, dalam menghadapi penjajahan. Wilayah Pauh, yang dahulu terdiri dari Pauh V dan Pauh IX (Kuranji), dikenal sebagai daerah yang sulit ditaklukkan Belanda karena penduduknya bersemangat tinggi dan tidak mudah menyerah.
Akar Perlawanan sejak Era VOC
Sejak era VOC Belanda, rakyat Pauh sudah kerap melakukan perlawanan. Antara tahun 1665 hingga 1740 tercatat 20 kali perlawanan besar terhadap Belanda, belum termasuk berbagai kerusuhan kecil yang terus mengganggu pemerintahan penjajah. Wilayah seperti Piai-Pasabaru, Kuranji, Korong Gadang, dan Lubuk Lintah menjadi pusat perjuangan. Para pemimpin Pauh-Kuranji yang dikenal sebagai "Si Ampek Baleh", terdiri dari 14 penghulu seperti Rajo Perak dan Sutan Mulia, aktif menyerang markas Belanda di Padang. Meski Pauh pernah dibakar dan dihancurkan oleh Belanda, semangat perlawanan itu tetap melekat turun-temurun dan menanamkan sikap keras menentang penjajahan asing pada masyarakatnya.
Perebutan Senjata Pasca-Proklamasi
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, masyarakat Pauh menyambutnya dengan sukacita, namun menolak keras kedatangan tentara Sekutu dan Belanda yang berdalih mengamankan proses pengembalian pasukan Jepang. Para pejuang segera bergerak merebut senjata yang ditinggalkan Jepang sebelum jatuh ke tangan Sekutu. Pada awal Oktober 1945, terjadi penyerangan gudang senjata Jepang di Ulu Gadut yang dipimpin Rasjid dan Abdullah Aceh, berhasil menguasai senjata ringan dan amunisi penting.
Pertempuran Batu Busuak dan Padang Basi
Ketegangan meningkat setelah kedatangan Sekutu pada Oktober 1945 dan terus berlanjut hingga 1946, menjadikan Kota Padang medan pertempuran yang sengit antara pasukan Sekutu dan pejuang republik. Pada Juni 1946, pasukan Sekutu menyerang kawasan Batu Busuak dan Padang Basi, namun mendapat perlawanan berat dari barisan pejuang lokal. Pertempuran besar berlangsung selama berjam-jam. Meski Sekutu sempat membebaskan kaki tangannya, pasukan pejuang berhasil memukul mundur pasukan Sekutu di beberapa titik. Korban jiwa di pihak pejuang tidak sedikit, termasuk 13 orang yang gugur dalam peristiwa tersebut.
Pembangunan Monumen
Monumen ini terletak di halaman Kantor Karapatan Adat Nagari (KAN) Pauh, Simpang Pasar Baru. Pembangunannya dimulai pada 3 Mei 1988 dan diresmikan pada 10 November 1989 sebagai lambang keberanian dan semangat rakyat Pauh dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari berbagai ancaman penjajahan.
Sumber: Buku Nilai Sejarah Tugu Monumen Perjuangan Di Kota Padang, Oleh Marsaleh Adaz, S.Sos