LAVAS Logo
LAVAS Layanan Audio Visual Arsip Statis
Sekitar Arsip Daftar Arsip Galeri Tokoh Berita
Tugu Pemuda Syarief
Koleksi Foto / Tugu

Tugu Pemuda Syarief

04 Sep 2026
Galeri / Koleksi Foto / Tugu / Tugu Pemuda Syarief
Tugu Pemuda Syarief

MONUMEN TUGU PEMUDA SYARIF (PERISTIWA OLO)
Peringatan Perjuangan Mohammad Syarif
Lokasi: Jalan Pemuda, Kota Padang (kawasan eks-terminal angkutan umum dekat Plaza Andalas)

Monumen Pamudo Syarif dibangun pada tahun 1984 untuk mengenang kepahlawanan dan perjuangan gigih Muhammad Syarif, seorang pejuang asal Koto Marapak yang menentang penjajahan Belanda hingga akhirnya dihukum mati di penjara Belanda di Muaro Padang. Tugu ini dirancang oleh seniman dan perupa asal Sumatra Barat, Drs. Nasbahri C. Koto.

Latar Belakang: Pemuda Syarif
Pemuda Syarif lahir di Koto Marapak, anak tunggal pasangan Abdul Moeis dan Nurliah. Ia tumbuh besar di tengah keluarga pedagang. Ayahnya seorang pedagang keliling yang pernah berdagang hingga Jambi dan Singapura, dan ia sempat bersekolah di Taman Sari, sekitar lokasi Kampus Fakultas Hukum Unand Jalan Pancasila sekarang. Dalam pergaulan sehari-hari, ia dikenal berjiwa sosial tinggi, berani mengambil keputusan, dan taat beragama.

Situasi Pasca-Kemerdekaan di Padang
Setelah tersiar kabar kekalahan Jepang dan Proklamasi Kemerdekaan RI, sejumlah orang Belanda yang sebelumnya ditawan Jepang di Bangkinang kembali ke Padang dan mulai menyusun daftar hitam pribumi yang dianggap kolaborator Jepang. Sementara itu, tentara Sekutu dan NICA bertindak kejam dengan dalih melucuti senjata Jepang, memicu pembalasan dari para pemuda Padang. Orang Belanda dari Bangkinang yang datang menumpang tentara Sekutu berlaku angkuh, kembali menempati rumah-rumah lama, dan kerap berpesta hingga larut malam sehingga situasi semakin tegang.

Pembentukan PRI Koto Marapak
Sekitar Oktober 1945, atas anjuran Ketua BPPI Ismael Lengah, PRI (Pemuda Republik Indonesia) dibentuk di Koto Marapak, dengan Mohammad Syarif sebagai ketua, Abdullah Busai wakil ketua, dan Yahya sekretaris. Satu bulan kemudian, pada malam 18 hingga 19 November 1945, terjadi penyerangan pertama pemuda Kota Padang terhadap Belanda, menandai kebangkitan tekad untuk mengusir Belanda dari kampung-kampung dalam Kota Padang.

Penyerbuan Asrama Bordewijk
Kebencian memuncak akibat kesombongan orang Belanda yang diasramakan di rumah Bordewijk, di Jl. Olo (kini Jl. Pemuda, dekat Plaza Andalas), yang saat itu difungsikan sebagai asrama RAPWI. Para pemuda Ujung Pandan dan Koto Marapak, sebagian besar anggota PRI, menyusun strategi penyerbuan secara rahasia, lengkap dengan peta situasi rumah yang dibuat oleh Abdullah Busai. Rumah itu dikepung dan diserang menggunakan bola lampu serta botol berisi minyak yang disumbu, ditambah senjata rampasan dari Jepang seperti granat tangan.

Serangan berlangsung dramatis. Api membesar setelah Abdullah Busai mendorong drum bensin ke dalam rumah, hingga 21 orang Belanda (13 perempuan, 8 laki-laki, termasuk satu orang China) menyerah dan digiring keluar. Sebagian tawanan yang dibawa menuju Kandis kemudian dibunuh oleh pemuda setempat di Batu Busuk, sementara satu tawanan berhasil melarikan diri dan melapor ke markas Sekutu di Hotel Oranye.

Penangkapan dan Penyiksaan
Pada 19 November 1945, Sekutu dan NICA melakukan penangkapan besar-besaran di Koto Marapak, menahan sekitar 20 pemuda di Penjara Muaro Padang. Tiga hari kemudian, sekitar 22 November 1945, Mohammad Syarif turut tertangkap. Menurut satu versi karena jebakan kabar palsu tentang sakitnya orang tua, menurut versi lain karena rumahnya dikepung saat ia tertidur. Di dalam penjara, ia diinterogasi dan disiksa hingga sekujur tubuhnya bengkak dan lebam, mendekam selama dua tahun sebelum akhirnya diadili.

Vonis dan Eksekusi
Setelah Sekutu menyerahkan Kota Padang kepada kekuasaan Belanda pada 28 November 1946, Pemuda Syarif dan kawan-kawan mulai menjalani sidang. Sebagian besar pemuda Koto Marapak dijatuhi hukuman 12 sampai 15 tahun penjara, sementara Mohammad Syarif divonis penjara seumur hidup. Permohonan grasinya ditolak oleh pengadilan Belanda yang diketuai Mr. Liem, dan hukumannya diperberat menjadi hukuman mati.

Pada 1 November 1947, Mohammad Syarif ditembak mati di Penjara Muaro Padang. Ia menolak ditutup matanya saat eksekusi, dan sebelum ditembak hanya melantunkan sebaris pantun sebagai ungkapan terakhir semangat kemerdekaannya. Momen eksekusi yang menjadi pusat perhatian penjaga sempat dimanfaatkan 18 pemuda tahanan lain untuk melarikan diri dengan memanjat tembok penjara.

Pemakaman
Jenazah Pemuda Syarif dimakamkan pada hari yang sama di pinggir jalan di bawah pohon ketapang besar, kini berada di depan Hotel Bumi Minang/Mariani Hotel, bersama Muhammad Hasyin yang gugur akibat penganiayaan serdadu Belanda. Sekitar tahun 1950-an, atas inisiatif Hasan Basri Maatan, makam Pemuda Syarif dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Lolong, Padang.

Sumber: Buku Nilai Sejarah Tugu Monumen Perjuangan Di Kota Padang, Oleh Marsaleh Adaz, S.Sos; hantaran.co; posmetropadang.co.id