MONUMEN TUGU PERMINDO (PERGURUAN MENENGAH INDONESIA)
Peringatan Perjuangan Pendidikan Kemerdekaan
Lokasi: Sudut Halaman Eks SMA 1 Padang
Tugu Permindo dibangun pada tahun 1986 sebagai penghormatan terhadap Perguruan Menengah Indonesia (PERMINDO), sebuah sekolah yang didirikan di tengah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kota Padang, antara tahun 1945 hingga 1950. Nama Permindo diambil dari inisiasi sekolah yang tercantum dalam surat keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Padang nomor 188.45.2.07/SK-Sek/86 tanggal 14 Juli 1946. Sekolah ini menjadi cerminan perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya lewat kekuatan militer, tetapi juga melalui pendidikan yang membangun semangat nasionalisme dan menolak dominasi bahasa Belanda dalam proses belajar mengajar.
Pendirian PERMINDO
Pembentukan PERMINDO diprakarsai pada Maret 1949 oleh tiga tokoh utama, yakni Zaini Arifin Usman, Marah Syafei Shahab, dan Enggak Bahauddin, di tengah pemulihan kondisi Kota Padang pasca agresi militer Belanda. Mereka menyadari pentingnya mendirikan sekolah berkurikulum Republik Indonesia untuk menghidupkan semangat perjuangan. Gedung bekas Normal Islam Pendidikan Guru Agama Islam (PGAI) di Jati kemudian dipilih sebagai lokasi sekolah, dengan dukungan dana dan peralatan dari tokoh masyarakat dan pedagang.
Pada 17 April 1949, PERMINDO resmi menggunakan gedung bekas PGAI dengan Ir. A.H.O Tambunan sebagai direktur, menyediakan jenjang SMP dan SMA dengan guru-guru dari berbagai disiplin ilmu, banyak di antaranya pulang dari pengungsian atau pegawai negeri yang mampu mengajar. Pendaftaran pelajar dimulai pada 2 Mei 1949, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dan jumlah siswa bertambah pesat hingga mencapai 300 orang pada akhir Juni 1949.
Semangat di Bawah Pengawasan Ketat
PERMINDO bukan hanya pusat akademik, tetapi juga aktif dalam bidang olahraga, khususnya sepak bola, sebagai alat mengangkat moral nasionalisme. Sekolah ini senantiasa berada dalam pengawasan ketat dinas intelijen Belanda (Nefis), yang berusaha mencegah gangguan atau konspirasi yang dapat mengancam penjajahan. Meski begitu, pelajar dan guru tetap mempertahankan nilai-nilai nasionalisme, seperti yang dilakukan guru Nurdjana Soetardjo yang berani menyusup ke pangkalan militer Belanda untuk mengajarkan bahasa Indonesia dan sejarah perjuangan kepada tentara Belanda.
Keberanian PERMINDO juga tampak lewat pawai kebangsaan pada awal Juni 1949, yang diikuti sekitar seratus pelajar menyusuri jalan kota membawa lagu perjuangan meski dalam pengawasan ketat polisi NICA dan Nefis. Begitu pula perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1949, yang tetap berlangsung dengan puluhan ribu masyarakat menghadiri pembacaan teks proklamasi dan penaikan bendera merah putih, meski diwarnai intimidasi tentara Belanda.
Majalah Siswa Merdeka dan Momen Penting Lainnya
PERMINDO menerbitkan majalah "Siswa Merdeka" sebagai simbol kebebasan berpendapat dan pengikat antarpelajar, meski kemudian dibredel pihak Belanda karena dianggap mengandung unsur penghasutan. Pada September 1949, guru dan pelajar PERMINDO menyambut kedatangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Kota Padang dalam misi pengamanan gencatan senjata, dan berhasil mendapatkan dukungan moral kuat dari Sultan bagi perjuangan sekolah ini.
Peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 1949 turut memberikan momentum khusus melalui upacara di gedung Bioskop Rio yang diiringi ziarah ke makam pahlawan. Kunjungan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Padang pada 29 November 1949 juga menjadi ajang bagi PERMINDO untuk menunjukkan kontribusi aktifnya dalam perjuangan bangsa, dengan pelajar ikut serta menyambut dan berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan penting.
Akhir Era PERMINDO
Momen serah terima kekuasaan dari Belanda ke pemerintah Republik Indonesia di Padang pada 27 Desember 1949 menjadi titik balik bersejarah. PERMINDO mengorganisir panitia dan menggerakkan pelajar untuk memperkuat kedaulatan republik melalui upacara dan persembahan nasionalis, menandai berakhirnya pengaruh Belanda dan beralihnya sekolah-sekolah ke penggunaan bahasa Indonesia. Pada 2 Januari 1950, PERMINDO resmi dipindahkan ke gedung yang kini menjadi SMP 1 dan SMA 1 Padang, sementara nama PERMINDO tidak lagi digunakan secara resmi.
Makna dan Desain
Meski demikian, warisan semangat nasionalisme, perjuangan, dan nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan PERMINDO tetap hidup dalam sejarah lokal dan nasional. Tugu Permindo, yang dirancang oleh Drs. Amril M.Y. Dt. Garang dan dibangun oleh guru-guru SMK 4 Padang, menjadi simbol abadi dari perjuangan ini, mengingatkan generasi penerus akan pentingnya pendidikan sebagai sarana menegakkan kemerdekaan sejati dan mempertahankan semangat pantang menyerah di tengah tekanan penjajahan.