Klik foto untuk melihat lebih detail
Said Rasyad
1920 - 1992
Biografi Lengkap
Said Rasyad merupakan salah satu tokoh pemerintahan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang berperan penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di Sumatera Barat pada masa revolusi. Ia dikenal sebagai Wali Kota Padang ketiga dan menjadi penerus Bagindo Aziz Chan setelah gugurnya tokoh tersebut akibat serangan Belanda pada tahun 1947.
Pendidikan dan Karier Awal
Said Rasyad menempuh pendidikan menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke AMS (Algemene Middelbare School) di Batavia (kini Jakarta). Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memilih berkarier sebagai seorang pendidik.
Dalam dunia pendidikan, Said Rasyad pernah menjadi guru dan kemudian dipercaya sebagai Kepala Sekolah Teknik Simpang Haru di Padang, yang merupakan kelanjutan dari sekolah teknik peninggalan Belanda, Ambacht School. Profesi ini membentuk karakter kepemimpinannya yang tegas dan dekat dengan kalangan pemuda.
Insiden Simpang Haru dan Perjuangan Kemerdekaan
Pada masa Agresi Militer Belanda, tepatnya tanggal 27 November 1947, terjadi peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Insiden Simpang Haru atau menjadi bagian dari rangkaian Peristiwa Padang Area. Saat itu tentara KNIL berusaha mengambil alih Sekolah Teknik Simpang Haru secara paksa.
Sebagai kepala sekolah, Said Rasyad menolak tindakan tersebut. Penolakannya berujung pada tindakan kekerasan; ia dipukul oleh tentara KNIL hingga pingsan. Peristiwa ini memicu kemarahan para pemuda Republik yang kemudian melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda dan KNIL pada hari berikutnya. Insiden tersebut menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat Padang terhadap upaya pendudukan kembali oleh Belanda.
Menjadi Wali Kota Padang
Setelah gugurnya Bagindo Aziz Chan pada tahun 1947, Said Rasyad ditunjuk untuk memimpin Kota Padang sebagai Wali Kota. Namun masa jabatannya berlangsung dalam situasi yang sangat sulit karena Belanda semakin memperkuat kontrol militernya di kota tersebut.
Melihat kondisi keamanan yang tidak memungkinkan, Said Rasyad mengambil langkah strategis dengan memindahkan pusat pemerintahan Republik dari Padang ke Padang Panjang. Tujuannya adalah agar roda pemerintahan tetap berjalan dan tidak sepenuhnya berada di bawah tekanan Belanda.
Keputusan ini menyebabkan kekosongan pemerintahan Republik di Kota Padang. Dalam situasi tersebut, pemerintah Belanda kemudian menunjuk Abdoel Hakim sebagai Wali Kota Padang versi administrasi yang mereka kendalikan.
Jabatan Setelah Revolusi
Setelah masa revolusi kemerdekaan, Said Rasyad tetap dipercaya menduduki berbagai jabatan penting dalam pemerintahan daerah. Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain:
Wakil Wali Kota Padang Panjang
Bupati Militer Agam
Bupati Padang Pariaman (1950–1953)
Melalui berbagai jabatan tersebut, ia turut berkontribusi dalam proses pemulihan dan pembangunan pemerintahan daerah setelah masa perang kemerdekaan.
Warisan dan Kiprah
Said Rasyad dikenang sebagai sosok pendidik sekaligus pemimpin daerah yang berani mengambil keputusan penting di tengah situasi perang. Meskipun masa jabatannya sebagai Wali Kota Padang relatif singkat, langkahnya memindahkan pusat pemerintahan ke Padang Panjang menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan keberlangsungan pemerintahan Republik Indonesia di Sumatera Barat.
Namanya tercatat dalam sejarah Kota Padang sebagai salah satu tokoh yang menjembatani masa kepemimpinan antara Abubakar Jaar, Bagindo Aziz Chan, dan pemerintahan daerah pasca-revolusi. Ia juga dikenang atas keberaniannya menghadapi tekanan militer Belanda serta dedikasinya dalam dunia pendidikan dan pemerintahan.