LAVAS Logo
LAVAS Layanan Audio Visual Arsip Statis
Sekitar Arsip Daftar Arsip Galeri Tokoh Berita
Bagindo Aziz Chan

Klik foto untuk melihat lebih detail

Pahlawan, Walikota Padang ke-2

Bagindo Aziz Chan

1910 - 1947

Bagindo Aziz Chan adalah Wali Kota Padang periode 1946–1947 yang dikenal karena keberaniannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya pendudukan kembali oleh Belanda. Lahir di Alang Laweh, Padang, pada 30 September 1910, ia berprofesi sebagai guru dan aktif dalam pergerakan nasional sebelum terjun ke pemerintahan. Keteguhannya menolak intervensi Belanda menjadikannya simbol perlawanan rakyat Padang. Bagindo Aziz Chan gugur pada 19 Juli 1947 dalam masa Revolusi Kemerdekaan dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2005.

Biografi Lengkap

Bagindo Azizchan adalah salah seorang Walikota Padang yang terkenal. Ia merupakan Walikota yang dibunuh oleh tentara Belanda selama revolusi fisik. Pada masa lalunya, Bagindo Azizchan yang lahir di Alang Laweh 30 September 1910 ini adalah seorang guru dan juga pejuang. Ia menggantikan Abu Bakar Jaar sebagai Walikota Padang pada tanggal 15 Agustus 1946.
Masa kecilnya, Bagindo Azizchan mengenyam pendidikan HIS di Padang, MULO di Surabaya dan AMS di Batavia. Selanjutnya ia meneruskan pendidikannya di Rechtshoogesschool te Batavia (RHS). Selanjutnya Bagindo Azizchan mencoba membuka pratek pengacara dan aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond. Tahun 1935, Bagindo Azizchan kembali ke Padang dan mengajar di beberapa sekolah di Padang dan luar kota.
Setelah menjadi Walikota Padang, Bagindo Azizchan kemudian menjalankan roda pemerintahan sebagaimana pendahulunya. Ia tidak mau tunduk pada kekuasaan Sekutu yang diboncengi Belanda. Ia teru melawan melalui berbagai tulisannya di surat kabar seperti Tjahaja Padang. Bagindo Azizchan sangat berani dan menolak setiap intervensi yang dilakukan oleh pihak Sekutu. Bagindo Azizchan mengatakan, “Langkahilah dulu mayatku, baru Kota Padang saya serahkan.”
Tanggal 19 Juli 1947, Bagindo dan keluarga bertolak dari Padang menuju Padang Panjang. Di daerah Purus, rombongannya dicegat oleh Letnan Kolonel Van Erps yang memberitahukan telah terjadi insiden di Nanggalo yang merupakan daerah garis demarkasi Belanda. Bagindo Azizchan Tewas. Menurut versi Belanda, ketika Bagindo turun dari mobil Jeep yang ditumpanginya Nanggalo, ia terkena peluru pihak pejuang dan dibawa ke sebuah rumah sakit di Padang. Namun, menurut hasil visum yang dilakukan oleh 4 dokter Indonesia di Bukittinggi, Bagindo Azizchan meninggal karena kepala belakangnya dipukul dengan barang berat sehingga tulang kepalanya hancur. Selain itu, terdapat tiga bekas tembakan di wajahnya yang dilakukan tentara Belanda setelah ia menjadi mayat.
Jenazah Bagindo Aziz Chan dimakamkan pada 20 Juli 1947 pukul 02.00 dalam sebuah upacara besar yang dihadiri pejabat sipil dan militer di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 082/TK/2005, tanggal 7 November 2005, Bagindo Aziz Chan menerima Bintang Mahaputera Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia tanggal 9 November 2005.